Malang sebagai salah satu kota di Indonesia yang selama ini menjadi salah satu tempat tujuan untuk melanjutkan belajar dari sekian banyak pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Tidak terkecuali yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam (Propinsi Daerah Istimewa Aceh).
Pada kisaran tahun 1990, mahasiswa yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam mulai berdatangan ke kota Malang untuk melanjutkan pendidikan di sejumlah Universitas di Malang.
Dikarenakan semakin banyaknya mahasiswa dan masyarakat Aceh di Malang ketika itu, muncul ide dan inisiatif dari rekan-rekan mahasiswa ketika itu untuk membuat sebuah komunitas yang pada awalnya hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul dan saling silaturrahmi sesama warga Aceh di perantauan.
Jalan awal untuk menuju sebuah komunitas Aceh di Malang pun di rintis. Tahun 1990, di koordinatori oleh Affifuddin, pertemuan perdana bertempat di Komplek PBI Blok E5 Malang, pada pertemuan tersebut hadir beberapa mahasiswa Aceh diantaranya, M. Fadli, Sufi Majdid, Affifuddin, Faizal, Fauzi Fz, Erwin Marwardi, Mirza, Faisal, Azhari, Nasri, Fenty Walad, Nazma, Suryani, Cut, dan Evi Alkaviati. Pertemuan itu juga bersepakat untuk memilih Affifuddin sebagai koordinator dan Erwin Marwardi sebagai sekretaris. Targetan pertama dari pertemuan ini adalah mendata seluruh mahasiswa Aceh yang berada di Malang. Sebagai sekretariat dipilih sebuah rumah kost-kostan di Jl. Mayjen Panjaitan 145 Malang, yang merupakan kost-kostan daripada (Erwin dan Mirza). Pada pertemuan itu juga telah tercetus nama Ikatan Pelajar Mahasiswa Aceh (IPMA) Malang sebagai nama dari wadah yang ingin mereka bentuk.
Keinginan dari para mahasiswa Aceh untuk segera memiliki sebuah wadah untuk tempat berkumpul tidak dapat ditunda. 2 minggu kemudian, 25 orang mahasiswa Aceh berkumpul di Sekretariat Panjaitan. Sesuai musyawarah pada pertemuan perdana, dimana setiap pertemuan diharapkan adanya seorang koordinator yang bergantian, maka pada pertemuan kedua ini koordinator di amanahkan kepada Reza. Dan tugas utama selanjutnya pun masih kepada mendata mahasiswa Aceh yang berada di Malang.
Selama 1 bulan seluruh potensi mahasiswa Aceh di Malang, mengerahkan segala daya dan upaya mereka untuk mendata dan mengajak Mahasiswa dan Pelajar dari Nanggroe Aceh Darussalam untuk duduk bersama membangun sebuah komunitas di Malang. Akhirnya pada tanggal 25 Juni 1991 berkumpullah seluruh potensi mahasiswa Aceh di Malang untuk bermusyawarah. Dan keputusan terakhir dari itu terbentuk sebuah organisasi mahasiswa Aceh di Malang yang disepakati bernama Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Aceh (IPMA) Malang dan ketua yang definitif juga terpilih ketika itu, yaitu Zainal Abidin (1991-1993) Mahasiswa STIEKN Malang Angkatan 1989. [seperti diceritakan langsung oleh pelaku sejarah, Fauzi Fz]